Multikultural Pendidikan di Indonesia Menjadi Masalah
Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan selalu dijadikan alasan untuk suatu masalah bagi masyarakat luas pada umumnya. Apakah peyebab multikultural ini dan mengapa menjadi perbincangan panas?. Biasanya pendidikan masyarakat multikultural itu dialami oleh sebagian masyarakat majemuk. Dan memang sepertinya masalah ini akan selalu disandang oleh sebagian masyarakat kita ini. Masyarakat majemuk menyadari tentang perbedaan keberagaman baik etnis, social-ekonomis, dan kultural. Masyarakat yang seperti ini bisa dinamakan sebagai masyarakat pluralistik atau masyarakat heterogen. Sebaliknya dengan masyarakat homegen, yang merupakan masyarakat yang memiliki keberagaman rasa tau etnis yang sama. Multikulturalisme bukanlah sekedar wacana tetapi merupakan sebuah idiologi. Idiologi yang dikembangkan adalah melalui bangunan perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada tersebut diramu dan diracik sehingga menghasilkan sebuah teori tidak ada klaim kebenaran dan superior diantara golongan, sebab manusia tidak dapat meraih kebenaran yang absolut.
Yang melatarbelakangi masalah ini adalah kemajemukan masyarakat yang selalu berprasangka terhadap interaksi sosial diberbagai kependudukan. Namun penduduk sekitar selalu memandang bahwa prasangka tersebut merupakan suatu warisan generasi sebelumnya. Sebagai contoh, masyarakat Islam selalu menyimpan prasangka terhadap masyarakat Kristen, bahkan keturunan juga menjadi suatu permasalahan, yaitu antara keturunan pribumi dengan keturunan China. Saya berpendapat bahwa, prasangka tersebut biasannya tidak bersifat langgeng atau tetap. Karena prasangka itu dapat menciptakan interaksi social yang baik maupun jelek. Bahkan masalah ini dapat memicu konflik agama, karena menganggap semua agama itu sama.
Dalam kurun waktu tertentu golongan penduduk akan saling mencurigai satu dengan yang lainnya. Atau mungkin saja bisa saling memahami antar golongan. Itu terjadi jika para penduduk yang bermusyawarah membahas prasangka-prasangka yang ada dalam diri masing-masing. Mungkinkah dalam musyawarah akan tercipta titik temu antara satu dengan yang lainnya ?. Menurut saya, mungkin tapi, itu semua butuh proses yang benar-benar didukung oleh kedua belah pihak yang bermusyawarah. Pendidikan yang direncanakan sekarang ini terkadang selalu menjadi beban para masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat golongan menengah bawah. Golongan menegah bawah selalu dipandang rendah oleh golongan atas / elit yaitu pendidikannya. Biasanya, pendidikan golongan menengah hanya sebatas kemampuan. Sebaliknya pendidikan golongan atas selalu berusaha untuk selalu berada diatas, baik gelar maupun tahta. Suatu strata pendidikan yang baik itu terkadang golongan ataslah yang selalu ditempatkan diposisi atas, sedangkan golongan menengah bawah berada di bawahnya. Namun, tidak semua strata atas itu ditempatkan oleh golongan atas / elit. Terkadang malah sebaliknya yang golongan atas berada dibawah golongan menengah bawah. Semua itu dapat memicu suatu konflik globalisasi yang memuncak.
Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mencegah agar globalisasi yang memuncak itu tidak meluas adalah melalui pendidikan. Melalui pendidikanlah masyarakat mengetahui hitam-putih, benar-salah, baik-buruk, haq-bathil dan lain sebagainya. Tetapi jika wadah ini tidak berani untuk membedakan antara haq-bathil, benar-salah, baik buruk kepada peserta didiknya, serta yang diajarkan adalah bentuk kerelativitasan, maka yang akan dihasilkan adalah "generasi abu-abu", generasi yang "banci" karena tidak berani menyatakan dengan jelas suatu kebenaran. Peranan pendidikan dalam masyarakat memiliki peranan yang sangat vital. Tanpa pendidikan sebuah bangsa atau masyarakat tidak akan merasakan kemajuan, sebab peradaban manusia akan terlahir dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, pengabdian dan keihlasan serta pengamalan ilmu. Dan didukung pula oleh kemajuan berfikirnya masyarakat. Baik kemajuan politik, sosial, ekonomi, maupun budaya dan agama